Saturday, July 10, 2010

Tak ada Mandela di sini

Andai ada Mandela di sini, saya bergumam setelah beberapa kali menonton pertandingan Piala Dunia. Baru kali ini Piala Dunia (agak) menarik buat saya. Mungkin ada faktor lain, tapi faktor kebetulan yang paling menarik saya adalah film Invictus yang saya tonton hanya sekitar seminggu sebelum pesta sepakbola dunia ini. Nelson Mandela, dalam film ini, begitu menggebu mendukung tim rugby Afrika Selatan saat ia baru saja menjadi presiden.

Banyak serangan ditujukan padanya. Dia dicaci kulit putih karena dia representasi kulit hitam yang merebut segala kenyamanan kulit putih. Dia dipertanyakan rakyat kulit hitam karena mendukung ‘rugby—kontras dengan ‘sepakbola’–yang “milik” kulit putih. Kabinet juga mengkritiknya, karena mengurusi rugby terlalu jauh. Padahal dengan perubahan politik yang radikal, persoalan ekonomi dan politik yang menumpuk menunggu untuk dibereskan. Tapi kemudian Mandela memperlihatkan, urusan olahraga bukan sebatas urusan olahraga seperti yang mereka kira. Seperti yang saya juga selalu kira.

Sebuah negara, komunitas yang amat besar dan kompleks, tidak hanya membutuhkan bendera dan slogan yang dihormat dan diucapkan setiap hari. Untuk menganyam rakyat yang notabene tak saling terikat, kita selalu perlu semangat, walau terkadang itu sesentimentil eforia olahraga.

Seperti ketika saya melihat anggota tim Korea Utara menangis saat menyanyikan lagu kebangsaannya. Mulanya saya pikir karena mereka warga negara komunis yang totaliter; karena pikiran mereka tercuci oleh “menteri kebenaran” seperti dalam karangan George Orwell. Tapi ternyata, saya dengar mereka tidak terisolasi dari dunia luar seperti hampir seluruh warga Korea Utara pada umumnya. Mereka, pemain-pemain ini, adalah orang-orang yang punya pengalaman menjadi pemain klub sepakbola di negara lain. Tersentuh dengan ketulusan mereka, saya jadi ikut emosi saat Cristiano Ronaldo tertawa penuh ejekan setelah ia berhasil membobol gawang Korea Utara.

Saya jadi membayangkan bagaimana kalau gawang yang bobol itu gawang negara saya, bagaimana perasaan saya. Saya juga membayangkan bagaimana histerisnya seluruh negeri ini kalau tim PSSI menang sekali saja dalam babak penyisihan Piala Dunia. Atau tak usahlah menang, cukup berkesempatan main; menghirup bau rumput dan pertandingan.

Tapi tampaknya kita tak cukup menggebu-gebu. Kita tidak berani menjadikan sepakbola sebagai salah satu investasi nasionalisme kita yang berharga. Atau jangan-jangan kita tak butuh nasionalisme itu? Sayang sekali, Mandela, atau orang sekelas Mandela, tak ada di sini untuk menjawab pertanyaan itu.