Thursday, January 21, 2010

Tentang perang dan Timor 1975

Jika peristiwa di Timor tahun 1975 sesuai dengan gambaran dalam film Balibo, maka yang terjadi di sana adalah penyerbuan yang ketidakadilannya berlipat-lipat. Michael Walzer dalam bukunya Just and Unjust Wars, dengan komprehensif membahas tentang perang, lengkap dengan contoh-contohnya.

Sayangnya, penyerbuan Indonesia ke Timor tahun 1975 tak termasuk bahasan Walzer. Saya bisa memaklumi tiadanya bahasan soal Timor. Tulisan itu memang secara khusus digerakkan oleh aktivisme atas situasi di Vietnam, sedangkan ditulisnya saja selesai pada 1977. Saya yakin saat itu peristiwa Timor tenggelam di bawah ramai-ramai Perang Vietnam, dan secara sengaja pula ditenggelamkan oleh komplotan--ya, komplotan, bukan hanya Indonesia saja--negara-negara pelaku dan penyokong penyerbuan.

Untuk melihat adil tidaknya suatu perang, secara garis besar ada dua hal yang jadi referensi. Yang pertama, jus ad bellum, yakni alasan berperang. Yang kedua, jus in bello, yakni cara-cara yang digunakan dalam berperang. Bisa saja satu agresi tidak dengan alasan yang valid, atau tidak adil jika dilihat dari jus ad bellum. Tapi bisa juga alasan agresinya valid, namun tak memakai cara berperang sesuai konvensi, dengan kata lain, tak adil jika dilihat dari sudut pandang jus in bello.

Perang yang terjadi di Timor tahun 1975, bagi saya sudah jelas tidak memiliki dasar yang jelas. Kalau saya tidak salah, versi pemerintah mengatakan kalau serangan itu dilakukan karena ada faksi Timor-Timur yang meminta bergabung dengan Indonesia, sedangkan faksi lain, yang jelas paling besar, Fretilin, menghendaki kemerdekaan. Yang diketahui warga Indonesia di bawah kekuasaan Soeharto saat itu, tentara telah menyelamatkan Timor-Timur dari perang saudara. Indonesia adalah "pahlawan" dan "pengayom" rakyat Timor, tanpa menyebutkan proses heroik dan mengayomi itu terjadi melalui pembunuhan lebih dari seratus ribu orang.

Kembali ke soal alasan perang, tentu saja sebuah negara tidak bisa menganeksasi sebuah wilayah hanya karena--katakanlah--seratus orang penduduknya memintanya. Terkecuali jika ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara pada rakyatnya, negara lain tak bisa melakukan agresi dalam rangka humanitarian intervention. Dengan demikian, alasan Indonesia merespon salah satu faksi Timor itu tidak tidak valid. Penyerangan 1975 sama sekali tidak adil atau benar, jika dilihat dari jus ad bellum.

Jika memakai kategori kedua, Indonesia lebih tak punya muka lagi. Pertama, aturan dalam perang yang sudah jelas: tentara harus melawan tentara. Yang disebut tentara tentu saja lengkap dengan perangkatnya: seragam dan senjata. Dalam film Balibo, kita bisa melihat adegan di mana personil ABRI mengganti seragamnya dengan pakaian sipil, mungkin dengan tujuan untuk mengecoh gerilyawan. Itu saja sudah salah.

Aturan lainnya juga jelas: tidak boleh menyerang apalagi membunuh rakyat sipil. Tapi di Dili dan daerah Timor lain, darah rakyat sipil membanjiri tanah. Di antara rakyat sipil memang ada gerilyawan, dan taktik gerilyawan memang membaur di tengah-tengah rakyat sipil. Tetapi kita bisa membedakannya dari senjata. Gerilyawan tentulah bersenjata. Lagipula, dalam perang antara dua tentara terorganisasi pun (artinya bukan gerilyawan) kita tak boleh membunuh mereka yang menyatakan menyerah ataupun tentara tanpa senjata. Perang ini, jelas jauh dari pantas, benar, apalagi adil.

Soal lain yang mengganggu pikiran saya, apakah darah orang Timor hanya milik pemerintah dan tentara Indonesia? Bagi saya, jelas tidak. Yang pertama, Australia, negara tetangga Timor ini juga punya andil. Pemerintah negara ini membiarkan ratusan ribu tetangganya mati dalam penyerangan. Tapi baiklah. Kita semua mafhum kalau Australia tidak punya cukup keberanian menghadapi Indonesia. Dengan sumber daya militer yang jauh di bawah Indonesia, mereka tak mungkin berani. Apalagi di belakang Indonesia ada Amerika Serikat.

Amerika Serikat? Ya, Amerika Serikat. Gerilyawan yang mengawal jurnalis Roger East di film itu berkata, "Dari mana Indonesia bisa membeli helikopter mahal dari Amerika itu?" Tentu saja itu sokongan Amerika Serikat yang ketakutan pada Fretilin yang komunis. Kedua negara yang alergi dengan komunisme ini, Indonesia dan Amerika, tak mau ada negara baru komunis yang nantinya masuk Blok-Timur. Indonesia dalam hal ini, mengorbankan semangat dan prinsip antikolonialisme yang dirayakan dalam Konferensi Asia Afrika. Juga mengingkari prinsip bebas-aktif yang digembar-gemborkannya sendiri, dengan gerakan non-bloknya.

Lalu sekarang, dengan seabrek kejahatan dan kepengecutan itu, kita mau mengingkari dan menutup-nutupi kebenaran? Bagi saya, itu berarti mencederai semangat liberasi yang kita perjuangkan melalui reformasi dan dilanjutkan dengan pembebasan Timor-Timur, yang sudah lebih dari sepuluh tahun kita lalui. Jika kita terus-menerus menolak untuk jujur pada diri sendiri, saya membayangkan korban Balibo dan lainnya akan selalu menghantui pendidikan demokrasi kita.

6 Comments:

Blogger novel.ceritaku said...

Peristiwa Balibo memang terjadi, tetapi benarkan [ara wartawan tersebut di bunuh oleh ABRI? itu semua tidak lepas dari propaganda Fretillin. Jangan lupa ada kesakisan lain dari warga Australia sendiri pada saat itu yg sempat ditahan oleh Fretilin bernama Rex Syedell, dia justru berani bersumpah bahwa pelau pembunuhan para wartawan itu adalah Fretilin yang sengaja membunuh dan kemudian menuding Indonesia yang melakukan agar indonesia mendapat tekana dari dunia internasioanal. Ternyata propaganda itu efektif sekali dan andapun sebagai warga negara Indonesia juga termakan oleh propaganda tersebut.

March 26, 2010 at 12:33 PM  
Blogger novel.ceritaku said...

Mencari Kebenaran Versi Lain Tragedi Balibo '75

sehari setelah saya menceritakan film Balibo ke orang-orang kantor (redaksi BUMNtrack), Pemred saya (thank Pak anto) menyodorkan kepada saya sebuah buku kesaksian wartawan perang Indonesia, yang ditulisnya sendiri, MS Kamah yang juga turut menyaksikan tragedi Balibo dalam tugas peliputannya. Buku tersebut adalah terbitan Antara Pustaka Utama dengan judul Wartawan Perang, dari Irian Barat hingga Timor Timur.

Berikut point yang saya dapat dari buku tersebut:

- Konflik berawal dari perbedaan pendapat 3 partai besar di Timor Timur pada saat itu,yakni partai UDT (Uniao Democratica Timor), Apodeti (Associacao Popular De Timorense), dan Fretilin (Frente Revolucionarcio de Leste Timore) setelah pergantian Gubernur Letnan Kolonel Lemos Pires yang menggantikan Vernando Alves Adeia pada November 1974. Dimana Fretilin menginginkan TimorTimur merdeka, UDT tetap di bawah Portugis, dan Apodeti memilih untuk tetap bergabung dengan Indonesia.

- Kemudian terjadi koalisi antara partai UDT dengan Fretilin dengan misi proportugis. Namum sejak Fretilin mempraktekkan ajaran komunis, partai UDT berpaling dari Fretilin dan memutuskan untuk berkoalisi dengan Apodeti untuk bergabung dengan Indonesia.

- Merasa dikhianati oleh partai UDT, Fretilin dibawah pimpinan Ramos Horta mencari dukungan dari tropas (tentara portugis) untuk melawan UDT yang terang-terangan mengecam komunis dan mulai menyerang untuk memperebutkan daerah kekuasaan.

- Konflik meruncing, Fretilin melalukan serangan kepada partai UDT dan Apodeti yang menguasai ibu kota Dili. Merasa lemah dan tidak terima, partai UDT dan Apodeti meminta bantuan Indonesia (TNI) untuk melakukan serangan balasan melawan Fretilin dalam Operasi Seroja.

- Operasi Seroja adalah operasi balasan oleh pasukan gabungan (TNI, UDT, dan Apodeti) untuk menggempur Fretilin dan merebut Batugade, Balibo, Maliana, Bobonara, dan Atabai.

- Kemudian dalam pertempuran di Balibo pada 16 Oktober 1975 ditemukan 15 mayat dalam sebuah rumah. Lima diantaranya berkulit putih dan dikenali sebagai wartawan Australia. Mereka adalah Cary Cunningham, Tony Stewart, Greg Schakleton, Malcom Rennie, dan Brian Peters jurnalis dari regu televisi di Melbourne dan Sidney.

- Kemudian pada tahun 1976, seorang warga Australia yang tinggal selama 8 tahun di Timor Timur, Rex Sydel mengungkap fakta lain dalam tragedi yang terjadi di Balibo. Rex menjelaskan bahwa kelima wartawan Australia yang tewas dalam tragedi Balibo dibunuh oleh Fretilin.

- Rex mengatakan pimpinan Fretilinlah yang memerintahkan seorang kapten, sersan, dan kopral Tropas untuk membunuh lima wartawan Australia tersebut.

**so, which one the truth are u believe guys...?

catatan: MS Kamah (penulis buku: Wartawan Perang, dari Irian Barat hingga Timor Timur) adalah wartawan dari LKBN Antara kelahiran Gorontalo 1934 yang juga meliput perang di Irian Barat dan daerah konflik lainnya.

sumber: http://bit.ly/7onnNF

March 26, 2010 at 12:38 PM  
Blogger Lida said...

Tapi anehnya, mengapa ketika saya menggogle nama "Rex Syedell", tak ada dokumen yang muncul satupun, kecuali kolom komentar tulisan ini.

April 7, 2010 at 9:37 AM  
Blogger bitra said...

Tambahan saja, sebenarnya ada beberapa sumber yang berisi "Rex Sydell" yang saya temukan via Google:

Dalam buku Last Flight out of Dili (Google Books) dan surat kabar The Age edisi 22 April 1976 (Google News Arvhice).

Kutipan artikel "Hawke seeks UN probe on Timor deaths" dalam The Age:

"Mr. Hawke rejected a statement by an Australian coffee planter, Mr. Rex Sydell, that Fretilin members killed the journalists. Mr Sydell was held by Fretilin for several months, but freed recently."

April 16, 2010 at 1:58 PM  
Blogger Henry Kingsler said...

Nama Rex Sydell itu tidak pernah ada, justru saya baru tahu kalau dalam catatan ini. Anda jangan percaya buku yang ditulis oleh wartawan antara itu. MS kamah termasuk Hendro Subroto tentang saksi mata integrasi itu pengbohong semua.

March 21, 2012 at 10:06 AM  
Blogger abidin nor said...

kalau mengulas suatu peristiwa di cari sumber yang kompeten,dan jangan dari satu sisi,jangan melibatkan emosi,mungkin indonesia sudah menginvasi tim tim,tapi tidak bisa di bilang salah atau benar,itulah dunia politik warnanya abu abu

August 6, 2013 at 9:42 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home