Wednesday, April 8, 2009

Partai dan demo

Sepuluh tahun lalu saat masih SMA, setelah Pemilu 1999, saya diajak sekelompok pemuda bergabung dengan onderbouw Partai Amanat Nasional, BM PAN—saya lupa kepanjangannya apa. Saya sih mau, karena dulu saya pengagum berat Amien Rais. Saya mengikuti perkembangannya sejak dia nyeloteh soal Busang dan Freeport, juga saat ia dipaksa mundur dari Dewan Pakar ICMI. Tulisan-tulisannya kubaca dari Tabloid Adil sewaktu saya SMP. 

Tapi saat ini saya tidak akan bercerita soal BM PAN maupun Amien Rais. Saya mau ceritakan tentang seseorang yang ada di sana. Tersebutlah dua ketua ranting tingkat kecamatan. Yang satu, si A, adalah ketua saya. Satunya lagi si I, ketua ranting kecamatan tetangga. Walau beda kepengurusan, tapi kami sering ngobrol bersama, walaupun saya tidak sepenuhnya mengerti obrolan-obrolan itu.

Obrolannya, di masa itu, apalagi kalau bukan soal demonstrasi? Tahun 1999-2000 masih hangat-hangatnya orang pergi demonstrasi, karena ada Sidang Istimewa dan lain-lain. Buat saya bocah SMA, cerita-cerita demonstrasi mahasiswa terdengar begitu heroik. 

Singkat cerita, suatu hari saya dan A tidak membicarakan soal demonstrasi, tetapi soal proposal kegiatan kami. A mengatakan pada saya bahwa ia akan mengajukan proposal permohonan dana itu pada walikota. Saya ingat betul kata-katanya, “Urang rek ngajukeun proposal ka walikota. Bodor, ku si I walikota teh didemo wae, ku urang kalah rek dipentaan duit (Saya mau mengajukan proposal pada walikota. Lucu, sama si I walikota didemo terus, sama saya malah mau dimintain duit),” si A ngomong sambil nyengir ironis. Kenyataannya, I memang lebih sering demo daripada A. Kampus dan organisasi mereka memang berbeda juga, jadi ya tidak sama-sama terus. I, dalam hal apapun, lebih ‘galak’ daripada A.

Tapi saya tidak pernah menanggapi atau menganggap omongan si A itu sesuatu yang serius. Lewat-lewat saja. Lagipula saya cuma berkegiatan di sana kurang dari setahun. Saya kemudian sibuk dengan teman-teman saya di sekolah dan mulai punya pacar juga. Tidak sempatlah saya urus-urus soal politik. Sekolah dan teman-teman—dan pacar, hahaha—lebih menyenangkan.

Sekitar 4-5 tahun kemudian, menjelang Pemilu 2004, saya naik angkot jurusan Cileunyi-Cicaheum. Angkot itu tampak lengang, namun saya tak memperhatikan orang-orang di angkot. Tetapi, saat angkot mendekati Cicaheum (itu artinya segera sampai tujuan), seseorang di angkot mengangkat telepon, “Ya, halo. O ya ya ya, saya lagi di jalan menuju kantor,” katanya pada orang di seberang telepon.

Saya mendongak ke arahnya, “I?” tanya saya dalam hati. Dia juga melihat ke arah saya. 

“Eh, Maulida kan?” sapanya. 

“Iya,” jawabku, “halo Kang I.”

“Gimana kabarnya? Maulida di partai apa sekarang? Apa masih di PAN?”

Pertanyaan itu terdengar aneh buat saya. Saya tidak pernah bergabung di partai dan belum pernah ikut pemilu pula. Saat tahun 99 bergabung di BM itu…buat saya asyik-asyikan saja; motifnya cuma satu: ingin tahu dunianya mahasiswa. Lha, setelah jadi mahasiswa, saya malah berencana golput. Dan Pemilu 2004 itu saya memang tidak pergi nyoblos.

“Oh, nggak, saya nggak ikut partai apapun. Pemilu juga kayaknya golput aja. Kalau Kang I sekarang di mana?”

“Saya sekarang di Golkar, jadi caleg,” jawabnya. Hah???

“Sekarang saya mau ke kantor, katanya banyak yang demo,” lanjutnya lagi.

Kami sampai di Cicaheum dan berpisah. Dan saya, di angkot Cicaheum-Ledeng, tak bisa melupakan ucapan I. Saya mengingat obrolan-obrolan lima tahun lalu.

Ya, lima tahun tampaknya hanya sebentar, dan kita juga bisa berubah sedemikian. Selamat pemilu, semuanya!