Thursday, December 23, 2010

Mampukah?

Mampukah aku menyelesaikannya dalam waktu sepuluh hari? Jadi teringat seorang teman, Iden Wildensyah, yang terobsesi dengan tulisan Yohanes Surya, Semesta Mendukung (Mestakung). Okelah kalau begitu. Semoga semesta mendukungku!

Saturday, July 10, 2010

Tak ada Mandela di sini

Andai ada Mandela di sini, saya bergumam setelah beberapa kali menonton pertandingan Piala Dunia. Baru kali ini Piala Dunia (agak) menarik buat saya. Mungkin ada faktor lain, tapi faktor kebetulan yang paling menarik saya adalah film Invictus yang saya tonton hanya sekitar seminggu sebelum pesta sepakbola dunia ini. Nelson Mandela, dalam film ini, begitu menggebu mendukung tim rugby Afrika Selatan saat ia baru saja menjadi presiden.

Banyak serangan ditujukan padanya. Dia dicaci kulit putih karena dia representasi kulit hitam yang merebut segala kenyamanan kulit putih. Dia dipertanyakan rakyat kulit hitam karena mendukung ‘rugby—kontras dengan ‘sepakbola’–yang “milik” kulit putih. Kabinet juga mengkritiknya, karena mengurusi rugby terlalu jauh. Padahal dengan perubahan politik yang radikal, persoalan ekonomi dan politik yang menumpuk menunggu untuk dibereskan. Tapi kemudian Mandela memperlihatkan, urusan olahraga bukan sebatas urusan olahraga seperti yang mereka kira. Seperti yang saya juga selalu kira.

Sebuah negara, komunitas yang amat besar dan kompleks, tidak hanya membutuhkan bendera dan slogan yang dihormat dan diucapkan setiap hari. Untuk menganyam rakyat yang notabene tak saling terikat, kita selalu perlu semangat, walau terkadang itu sesentimentil eforia olahraga.

Seperti ketika saya melihat anggota tim Korea Utara menangis saat menyanyikan lagu kebangsaannya. Mulanya saya pikir karena mereka warga negara komunis yang totaliter; karena pikiran mereka tercuci oleh “menteri kebenaran” seperti dalam karangan George Orwell. Tapi ternyata, saya dengar mereka tidak terisolasi dari dunia luar seperti hampir seluruh warga Korea Utara pada umumnya. Mereka, pemain-pemain ini, adalah orang-orang yang punya pengalaman menjadi pemain klub sepakbola di negara lain. Tersentuh dengan ketulusan mereka, saya jadi ikut emosi saat Cristiano Ronaldo tertawa penuh ejekan setelah ia berhasil membobol gawang Korea Utara.

Saya jadi membayangkan bagaimana kalau gawang yang bobol itu gawang negara saya, bagaimana perasaan saya. Saya juga membayangkan bagaimana histerisnya seluruh negeri ini kalau tim PSSI menang sekali saja dalam babak penyisihan Piala Dunia. Atau tak usahlah menang, cukup berkesempatan main; menghirup bau rumput dan pertandingan.

Tapi tampaknya kita tak cukup menggebu-gebu. Kita tidak berani menjadikan sepakbola sebagai salah satu investasi nasionalisme kita yang berharga. Atau jangan-jangan kita tak butuh nasionalisme itu? Sayang sekali, Mandela, atau orang sekelas Mandela, tak ada di sini untuk menjawab pertanyaan itu.

Saturday, April 10, 2010

Tidak berbakat

Saya tidak punya bakat menyimpan kekesalan, apalagi kekecewaan. Maaf.

Monday, April 5, 2010

On shopping

Setelah akhirnya bisa menikmati kegiatan ini selama 2 tahun ke belakang, saya menyadari sesuatu tentang berbelanja. Tampaknya kegiatan belanja sedikitnya menunjukkan karakter seseorang. Walau bisa terdengar terlalu dangkal memang.

Ada orang yang bisa berbagi kegiatan berbelanja dengan relatif adil. Dia senang mengantar tetapi juga diantar berbelanja. Orang-orang seperti ini relatif lebih seimbang, tidak terlalu egois maupun dimanfaatkan orang. Dia meminta pendapat pada partnernya, tetapi juga menunggu dan memberi masukan pada partnernya dan berbagi dengan riang akan incaran-incaran berbelanja mereka.

Di sisi lain, ada orang yang hanya senang mengantar orang lain berbelanja. Memberi pendapat ini itu, tapi ia sendiri sebenarnya tak terlalu hobi menghabiskan duit di lantai-lantai pusat perbelanjaan. Mungkin bagi orang-orang semacam ini, fashion jadi semacam science, sesuatu yang utama pada dirinya. Lain dengan orang yang diantarnya, yang menganggap fashion sebagai aksesori kegiatan berbelanja. Belanja menjadi sarana eksistensial paling ultim dan pertimbangan mode hanyalah faktor yang memberi rasionalisasi pada kegiatannya itu.

Ada lagi tipe lain, yakni orang yang terpusat pada dirinya. Ketika berbelanja, apa yang ada di pikirannya hanya dirinya, dirinya, dan dirinya. Dia tak peduli apa yang jadi ketertarikan atau objek buruan partner berbelanjanya. Ketika mencari barang untuk dirinya, ia meminta pendapat partnernya tentang apa yang pantas bagi dirinya, apa harganya pantas, dsb. Tetapi giliran si partner berburu incarannya, ia menganggap si partner memilah-milah terlalu lama, dan acuh-tak-acuh saat memberikan pendapatnya.

Tipe terakhir adalah orang yang tak suka merepotkan atau direpotkan orang. Orang macam ini lebih suka berbelanja sendirian. Seperti single fighter di medan pertempuran, yang penting baginya adalah kepuasan pribadi, tak peduli pendapat orang. Kalah menang atau dapat belanjaan bagus atau tidak, tidaklah penting. Yang penting ia puas bejuang menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri. Hebat juga, ya.

So, am I being too shallow here? :D

Thursday, January 21, 2010

Tentang perang dan Timor 1975

Jika peristiwa di Timor tahun 1975 sesuai dengan gambaran dalam film Balibo, maka yang terjadi di sana adalah penyerbuan yang ketidakadilannya berlipat-lipat. Michael Walzer dalam bukunya Just and Unjust Wars, dengan komprehensif membahas tentang perang, lengkap dengan contoh-contohnya.

Sayangnya, penyerbuan Indonesia ke Timor tahun 1975 tak termasuk bahasan Walzer. Saya bisa memaklumi tiadanya bahasan soal Timor. Tulisan itu memang secara khusus digerakkan oleh aktivisme atas situasi di Vietnam, sedangkan ditulisnya saja selesai pada 1977. Saya yakin saat itu peristiwa Timor tenggelam di bawah ramai-ramai Perang Vietnam, dan secara sengaja pula ditenggelamkan oleh komplotan--ya, komplotan, bukan hanya Indonesia saja--negara-negara pelaku dan penyokong penyerbuan.

Untuk melihat adil tidaknya suatu perang, secara garis besar ada dua hal yang jadi referensi. Yang pertama, jus ad bellum, yakni alasan berperang. Yang kedua, jus in bello, yakni cara-cara yang digunakan dalam berperang. Bisa saja satu agresi tidak dengan alasan yang valid, atau tidak adil jika dilihat dari jus ad bellum. Tapi bisa juga alasan agresinya valid, namun tak memakai cara berperang sesuai konvensi, dengan kata lain, tak adil jika dilihat dari sudut pandang jus in bello.

Perang yang terjadi di Timor tahun 1975, bagi saya sudah jelas tidak memiliki dasar yang jelas. Kalau saya tidak salah, versi pemerintah mengatakan kalau serangan itu dilakukan karena ada faksi Timor-Timur yang meminta bergabung dengan Indonesia, sedangkan faksi lain, yang jelas paling besar, Fretilin, menghendaki kemerdekaan. Yang diketahui warga Indonesia di bawah kekuasaan Soeharto saat itu, tentara telah menyelamatkan Timor-Timur dari perang saudara. Indonesia adalah "pahlawan" dan "pengayom" rakyat Timor, tanpa menyebutkan proses heroik dan mengayomi itu terjadi melalui pembunuhan lebih dari seratus ribu orang.

Kembali ke soal alasan perang, tentu saja sebuah negara tidak bisa menganeksasi sebuah wilayah hanya karena--katakanlah--seratus orang penduduknya memintanya. Terkecuali jika ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara pada rakyatnya, negara lain tak bisa melakukan agresi dalam rangka humanitarian intervention. Dengan demikian, alasan Indonesia merespon salah satu faksi Timor itu tidak tidak valid. Penyerangan 1975 sama sekali tidak adil atau benar, jika dilihat dari jus ad bellum.

Jika memakai kategori kedua, Indonesia lebih tak punya muka lagi. Pertama, aturan dalam perang yang sudah jelas: tentara harus melawan tentara. Yang disebut tentara tentu saja lengkap dengan perangkatnya: seragam dan senjata. Dalam film Balibo, kita bisa melihat adegan di mana personil ABRI mengganti seragamnya dengan pakaian sipil, mungkin dengan tujuan untuk mengecoh gerilyawan. Itu saja sudah salah.

Aturan lainnya juga jelas: tidak boleh menyerang apalagi membunuh rakyat sipil. Tapi di Dili dan daerah Timor lain, darah rakyat sipil membanjiri tanah. Di antara rakyat sipil memang ada gerilyawan, dan taktik gerilyawan memang membaur di tengah-tengah rakyat sipil. Tetapi kita bisa membedakannya dari senjata. Gerilyawan tentulah bersenjata. Lagipula, dalam perang antara dua tentara terorganisasi pun (artinya bukan gerilyawan) kita tak boleh membunuh mereka yang menyatakan menyerah ataupun tentara tanpa senjata. Perang ini, jelas jauh dari pantas, benar, apalagi adil.

Soal lain yang mengganggu pikiran saya, apakah darah orang Timor hanya milik pemerintah dan tentara Indonesia? Bagi saya, jelas tidak. Yang pertama, Australia, negara tetangga Timor ini juga punya andil. Pemerintah negara ini membiarkan ratusan ribu tetangganya mati dalam penyerangan. Tapi baiklah. Kita semua mafhum kalau Australia tidak punya cukup keberanian menghadapi Indonesia. Dengan sumber daya militer yang jauh di bawah Indonesia, mereka tak mungkin berani. Apalagi di belakang Indonesia ada Amerika Serikat.

Amerika Serikat? Ya, Amerika Serikat. Gerilyawan yang mengawal jurnalis Roger East di film itu berkata, "Dari mana Indonesia bisa membeli helikopter mahal dari Amerika itu?" Tentu saja itu sokongan Amerika Serikat yang ketakutan pada Fretilin yang komunis. Kedua negara yang alergi dengan komunisme ini, Indonesia dan Amerika, tak mau ada negara baru komunis yang nantinya masuk Blok-Timur. Indonesia dalam hal ini, mengorbankan semangat dan prinsip antikolonialisme yang dirayakan dalam Konferensi Asia Afrika. Juga mengingkari prinsip bebas-aktif yang digembar-gemborkannya sendiri, dengan gerakan non-bloknya.

Lalu sekarang, dengan seabrek kejahatan dan kepengecutan itu, kita mau mengingkari dan menutup-nutupi kebenaran? Bagi saya, itu berarti mencederai semangat liberasi yang kita perjuangkan melalui reformasi dan dilanjutkan dengan pembebasan Timor-Timur, yang sudah lebih dari sepuluh tahun kita lalui. Jika kita terus-menerus menolak untuk jujur pada diri sendiri, saya membayangkan korban Balibo dan lainnya akan selalu menghantui pendidikan demokrasi kita.

Monday, January 18, 2010

Sadness and life

Sometimes I felt so sad and helpless, but then I'd realized that this life is about how you perceived something. Sadness, happiness, sadness, happines... Hell yeah, Thank to myself for this understanding.

By the way, why does my English grammar never really improved? Belajar grammar aaaah... :D

Wednesday, April 8, 2009

Partai dan demo

Sepuluh tahun lalu saat masih SMA, setelah Pemilu 1999, saya diajak sekelompok pemuda bergabung dengan onderbouw Partai Amanat Nasional, BM PAN—saya lupa kepanjangannya apa. Saya sih mau, karena dulu saya pengagum berat Amien Rais. Saya mengikuti perkembangannya sejak dia nyeloteh soal Busang dan Freeport, juga saat ia dipaksa mundur dari Dewan Pakar ICMI. Tulisan-tulisannya kubaca dari Tabloid Adil sewaktu saya SMP. 

Tapi saat ini saya tidak akan bercerita soal BM PAN maupun Amien Rais. Saya mau ceritakan tentang seseorang yang ada di sana. Tersebutlah dua ketua ranting tingkat kecamatan. Yang satu, si A, adalah ketua saya. Satunya lagi si I, ketua ranting kecamatan tetangga. Walau beda kepengurusan, tapi kami sering ngobrol bersama, walaupun saya tidak sepenuhnya mengerti obrolan-obrolan itu.

Obrolannya, di masa itu, apalagi kalau bukan soal demonstrasi? Tahun 1999-2000 masih hangat-hangatnya orang pergi demonstrasi, karena ada Sidang Istimewa dan lain-lain. Buat saya bocah SMA, cerita-cerita demonstrasi mahasiswa terdengar begitu heroik. 

Singkat cerita, suatu hari saya dan A tidak membicarakan soal demonstrasi, tetapi soal proposal kegiatan kami. A mengatakan pada saya bahwa ia akan mengajukan proposal permohonan dana itu pada walikota. Saya ingat betul kata-katanya, “Urang rek ngajukeun proposal ka walikota. Bodor, ku si I walikota teh didemo wae, ku urang kalah rek dipentaan duit (Saya mau mengajukan proposal pada walikota. Lucu, sama si I walikota didemo terus, sama saya malah mau dimintain duit),” si A ngomong sambil nyengir ironis. Kenyataannya, I memang lebih sering demo daripada A. Kampus dan organisasi mereka memang berbeda juga, jadi ya tidak sama-sama terus. I, dalam hal apapun, lebih ‘galak’ daripada A.

Tapi saya tidak pernah menanggapi atau menganggap omongan si A itu sesuatu yang serius. Lewat-lewat saja. Lagipula saya cuma berkegiatan di sana kurang dari setahun. Saya kemudian sibuk dengan teman-teman saya di sekolah dan mulai punya pacar juga. Tidak sempatlah saya urus-urus soal politik. Sekolah dan teman-teman—dan pacar, hahaha—lebih menyenangkan.

Sekitar 4-5 tahun kemudian, menjelang Pemilu 2004, saya naik angkot jurusan Cileunyi-Cicaheum. Angkot itu tampak lengang, namun saya tak memperhatikan orang-orang di angkot. Tetapi, saat angkot mendekati Cicaheum (itu artinya segera sampai tujuan), seseorang di angkot mengangkat telepon, “Ya, halo. O ya ya ya, saya lagi di jalan menuju kantor,” katanya pada orang di seberang telepon.

Saya mendongak ke arahnya, “I?” tanya saya dalam hati. Dia juga melihat ke arah saya. 

“Eh, Maulida kan?” sapanya. 

“Iya,” jawabku, “halo Kang I.”

“Gimana kabarnya? Maulida di partai apa sekarang? Apa masih di PAN?”

Pertanyaan itu terdengar aneh buat saya. Saya tidak pernah bergabung di partai dan belum pernah ikut pemilu pula. Saat tahun 99 bergabung di BM itu…buat saya asyik-asyikan saja; motifnya cuma satu: ingin tahu dunianya mahasiswa. Lha, setelah jadi mahasiswa, saya malah berencana golput. Dan Pemilu 2004 itu saya memang tidak pergi nyoblos.

“Oh, nggak, saya nggak ikut partai apapun. Pemilu juga kayaknya golput aja. Kalau Kang I sekarang di mana?”

“Saya sekarang di Golkar, jadi caleg,” jawabnya. Hah???

“Sekarang saya mau ke kantor, katanya banyak yang demo,” lanjutnya lagi.

Kami sampai di Cicaheum dan berpisah. Dan saya, di angkot Cicaheum-Ledeng, tak bisa melupakan ucapan I. Saya mengingat obrolan-obrolan lima tahun lalu.

Ya, lima tahun tampaknya hanya sebentar, dan kita juga bisa berubah sedemikian. Selamat pemilu, semuanya!